Renungan : Kisah Semut Yang Hanyut di Sungai

Diposting pada

Sekelompok semut di hutan belantara sedang mengadakan pertemuan dan sedang merundingkan sebuah rencana.

Mereka ingin pindah tempat ke hutan seberang, namun antara dua hutan tersebut dibatasi oleh sungai yang besar.

Sang ketua dari kelompok semut berkata ” keadaan di tempat ini sudah tidak aman bagi kita. Banyak ancaman yang bisa membuat hidup kita terancam. Terutama keadaan stok makanan kita disini sudah tidak ada lagi. Besuk kita akan pindah ke hutan seberang. Bagaimana pun caranya kita harus mampu menyeberang sungai, mau tidak mau karena cuma itu jalan satu-satunya. Saya tidak memaksa kalian untuk ikut pindah, bagi yang masih mau bertahan disini silahkan saja, bagi yang mau ikut besuk berangkat sebelum matahari terbit “.

Kemudian semua anggota dalam kelompok semut itu mengatakan ” kami setuju dan besuk kita rencanakan perjalanan”.

Keesokan harinya mereka berangkat sebelum matahari terbit. Sambil membawa keluarga dan kerabat mereka, berbondong – bondong berangkat menuju hutan seberang.

Sesampainya disungai, mereka kebingungan gimana caranya biar bisa sampai seberang.

Sang ketua kemudian teringat ketika ada salah satu jembatan buatan manusia yang sudah rusak parah, mungkin cuma itu jalan yang bisa mengantarkan nya ke hutan seberang.

Kemudian mereka menyeberang di sebuah jembatan yang rusak lalu berjalan ber iringan.

Keadaan air memang sedang tenang, arus air tidak begitu deras.

Mereka menyeberang secara perlahan. Namun hal buruk terjadi, sesampainya ditengah ada dua ekor semut yang tergelincir dan terjatuh kedalam sungai, diperkirakan mereka ngantuk karena gak tidur semalaman πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€.

Dua ekor semut yang jatuh tidak bisa berenang. Semua semut sudah sampai di hutan seberang dan hanya bisa memandangi saja kedua temanya yang terjatuh kesungai yang hanya bisa berteriak minta tolong.

Namun mereka tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Kedua semut yang terjatuh berusaha untuk menepi ke pinggir sungai namun tetap saja kesulitan, sampai akhirnya mereka kelelahan dan hanya satu yang mereka bisa lakukan, cuma pasrah.

Kemudian beberapa semut yang sudah sampai di tepi berteriak ” maafkan kami, kami gak bisa menolong mu. Kalau kami menolong kamu, pasti kami juga akan celaka. Sudah lah!!! Percuma kalian berdua berusaha, nyerah saja. Gak ada gunanya juga teriakan kalian dan usaha kalian untuk menepi, sebentar lagi banjir datang. Nyerah saja kawan !!! Kami akan selalu mengingatmu !!! “.

Karena mendengar teriakan teman nya yang sudah ada ditepi. Salah satu semut yang terjatuh itu menyerah dan terlihat perlahan mulai tenggelam, sampai tak terlihat lagi.

Namun, satu semut yang masih di aliran sungai masih tetap berusaha untuk menepi.

Semut yang dipinggir terus berteriak nyuruh dia untuk nyerah saja. Namun semut yang satu ini tetap berusaha terus untuk menepi.

Akhirnya ada sebuah daun jatuh tepat berada di depanya, kemudian semut itu naik dan daun itu mengantarkanya untuk menepi.

Beberapa semut yang tadi sudah ada ditepi menghampiri temanya yang terjatuh dan selamat itu.

Kemudian ia berkata ” kenapa bisa selamat ? Kami tadi nyuruh kamu nyerah saja, karena usahamu pasti sia-sia. Teman kamu aja tenggelam, kenapa kamu bisa menepi ?”

Lalu semut yang terkena musibah itu dengan senyum menjawab ” aku tadi gak denger apa yang kalian teriakkan, aku ini agak tuli. Kalau denger suara dari jauh aku gak bisa denger. Tapi kalau deket kaya gini si normal aja dengernya. Aku kirain tadi kalian memberikan aku semangat biar aku selamat, aku cuma lihat gerakan mulut dan tangan kalian aja. Gak denger apa yang kalian bicarakan.

Yah aku tambah semangat untuk bisa menepi, tapi takdir berkata lain, sebuah daun tepat jatuh didepanku. Ia yang mampu menyelamatkan aku sampai aku ketepi. ”

Selesai 😊

Ada pesan moral yang ingin disampaikan. Dalam hidup apalagi ketika masuk ke masyarakat, pasti sikap mereka terhadap kita tentu berbeda – beda. Gak usah dijelaskan secara rinci, tapi saya yakin pasti berbeda. Teman, keluarga, teman didunia maya pun juga demikian.

Ketika kita melakukan hal yang menurut kita baik untuk masa depan kita, kadang ada saja yang menghalangi. Cemoohan, ejekan, kata-kata pedas, kata-kata kasar ataupun yang lain pasti sudah pernah dialami.

Saya ingin mencontohkan ketika saya menekuni blog.

Banyak yang kadang menanyakan persoalan ngeblog tapi ujung-ujungnya juga kadang ngejek.

Ngeblog itu apa an lah, cuma nulis nulis gak jelas, buang – buang waktu gak ada kerjaan lain apa ?

Ada yang berkata demikian ?

Emmmm.. Kayaknya ada, dari mereka yang belum ngerti blog.

Tulisan mu itu apaan, tulisan receh, domain blog aja gak ada keren – kerenya, tampilan blog juga apaan, gak ada bagus-bagus nya. Bagusan punya gue nih.

Ada yang berkata demikian ?

Ah biarin aja..

Ngeblog bisa menghasilkan uang mas ?

Bisa.

Terus gimana caranya ?

Saya udah share di blog, tinggal baca aja dulu.

Boleh tahu penghasilan blog masnya berapa, kasih lihat ss, atau kalau bisa laporan pay out perbulanya ?

Emmmmm…. Paling saya jawab, Lebih baik anda tanya aja ke orang lain yang dah lama ngeblog, toh saya juga masih baru.

Udahlah, ngeblog dapet apaan sih ? Dapet duit ? Dari mana ?

Dapet pun paling juga receh , iya kan ?

Mendingan nyerah aja lah, hapus aja blog nya.

Saya jawab aja, silahkan kalau anda mau nyerah.. Ngurangin saingan juga di peringkat search engine. HeheeπŸ˜‚

Nah dari beberapa pertanyaan dan ungkapan diatas, akankah kita akan seperti semut yang sudah berusaha tapi tenggelam ?

Atau seperti semut yang satunya yang berhasil ke tepi ?

Pesan moral dari cerita semut diatas

“jangan mudah menyerah, biarkan orang disekeliling anda mau berkata apa. Biarkan mereka berkata apa aja terserah hati mereka tentang anda. Buatlah ejekan dan cemoohan bahkan cacian mereka sebagai motivasi, karena kita sebenarnya masih butuh mereka untuk jadi penonton ketika kita sukses nanti πŸ˜πŸ˜πŸ˜€πŸ˜Š”

Terima kasih sudah membaca tulisan receh ini !

Tinggalkan Balasan