Renungan : Kisah di Balik Doa yang Terkabulkan

Diposting pada

Doa yang terkabulkan

Dulu, hiduplah keluarga kecil dengan kehidupan yang sangat sederhana. Terdiri dari ayah dan kedua anak laki-laki nya, ibunya sudah lama meninggal.

Sang ayah juga sering sakit-sakit an karena memang dari segi umur sudah usia lanjut. Sang ayah hanya bisa berbaring ditempat tidur, sementara yang memberi nafkah adalah kedua anak laki-laki nya. Kedua anak laki-laki nya adalah anak yang soleh dan berbakti pada orang tuanya.

Kakak beradik ini mempunyai watak dan fisik yang berbeda. Sang kakak mempunyai otak yang cerdas, tubuh yang gagah dan wajah yang tampan.

Sementara sang adik sebaliknya badan kurus, wajah pas – pasan dan mempunyai kekurangan, ia agak kesulitan membaca huruf (buta huruf).

Sang ayah lah yang telatin mengajari anak terakhirnya untuk sedikit demi sedikit belajar baca tulis huruf latin.

Kakak beradik itu sama-sama menjadi penjual daging ayam. Mereka mempunyai satu lapak dan dikelola berdua.

Suatu hari sang ayah kondisi sakitnya semakin parah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir nya.

Sebelum meninggal sang ayah meninggalkan secarik kertas dan tulisan yang sering digunakan sang ayah untuk mengajari baca tulis anak terakhirnya.

Sang adik pun menyimpan secarik kertas itu untuk dijadikan kenangan terakhir ayahnya.

Beberapa tahun kemudian usaha menjadi penjual daging ayam pun masih belum mengalamai kemajuan, bahkan sering rugi.

Suatu hari sang kakak mengeluh kepada adiknya, ” aku sudah tidak sabar lagi hidup begini, aku ingin menjadi orang yang kaya, istri yang cantik dan bisnis yang bisa membuat aku jadi orang terkaya di desa ini”

Sang adik membalas “berdoalah kepada allah, niscaya allah akan mengabulkan doamu wahai kakak”.

Kemudian sang kakak sering sholat sunnah di malam hari dan berdoa kepada allah swt tentang apa yang diinginkanya.

Ia meminta pendamping hidup yang cantik dan kekayaan yang berlimpah.

Sebulan kemudian kehidupan sang kakak berubah drastis. Semenjak ia bisa menikahi seorang gadis anak orang kaya, ia pun ikut menjadi orang yang terpandang didesanya.

Sementara sang adik tetap menggantungkan hidup dari berjualan daging ayam dipasar. Ia tidak mau menumpang kehidupan kakaknya. Ia tinggal sendiri menempati rumah peninggalan almarhum ayahnya.

Semenjak sang kakak sukses dan meninggalkanya seorang diri, sang adik selalu berdoa dengan membaca secarik kertas peninggalan ayahnya.

Sang kakak sudah sukses, apa yang menjadi harapanya dikabulkan allah swt. Sekarang ia serba mewah.

Istri cantik, harta melimpah, rumah mewah dan punya kedudukan di masyarakat.

Tapi ada yang lebih berbeda daripada itu, ia sekarang mulai angkuh dan sombong. Seakan kacang yang lupa kulitnya, ia tak mengingat masa-masa dimana ia masih menjual daging ayam bersama adiknya. Sampai adiknya pun ia lupakan.

Suatu hari ia teringat dengan adik kandungya, kemudian ia berangkat ke rumah sang adik bersama sang istri dengan mobil mewah.

Sampai dirumah sang adik, sang kakak mengetuk pintu namun tidak dibukakan. Karena pintu tidak dikunci sang kakak bisa leluasa masuk. Ia mendapati adiknya sedang berdoa dengan khusyuk nya.

Kemudian dengan cetus ia menceramahi adiknya.

“hey kau, walaupun kau doa terus tiap hari gak bakal juga doamu dikabulkan, berbeda denganku yang sekali doa, apapun yang aku inginkan pasti dikabulkan. Kau lihat sendiri lah antara aku yang sekarang dan dulu.

Harta ku makin banyak, rumahku makin mewah dan bisnis ku makin lancar.

Berhentilah kau membaca secarik kertas dari ayah itu, buang saja. ”

Sang adik hanya membalas dengan senyuman tentang apa yang telah dikatakan kakaknya.

Kemudian sang kakak pulang dan meninggalkan adiknya yang sedang khusyuk berdoa sambil menangis dan memandangi secarik kertas peninggalan ayahnya. Ia sedih karena sekarang kakaknya sudah berbeda sejak ia mempunyai banyak harta.

Suatu hari sang adik sakit dan terdengar lah kabar ke sang kakak kalau adiknya sedang sakit.

Sang kakak menjenguk, namun sesampainya dirumah sang adik, sakitnya semakin parah. Dan sampailah di penghujung usianya.

Ia menghembuskan nafas terakhir dipangkuan sang kakak. Sang kakak memperhatikan kalau secarik kertas peninggalan sang ayah digenggam kuat dalam tanganya.

Kemudian ia heran, mengapa adiknya selalu membawa secarik kertas itu ketika ia sedang berdoa ataupun sehabis sholat?

Untuk menghilangkan rasa penasaran nya, ia ambil secarik kertas yang sering di genggam adiknya dan ia membukannya. Ia kaget dan langsung menangis dan merasa menyesal kalau ia sudah menghina dan melupakan adiknya.

Apa yang ada dalam tulisan tersebut ?

Secarik kertas dengan tulisan “ya alloh, kabulkanlah semua doa-doa kakakku”.

Apa yang anda dapat dari kisah ini?

Uraikan dikolom komentar gan !

Tinggalkan Balasan